Rakyat45.com, Surabaya – Ludruk Surabaya seni tradisional kembali mencuri perhatian lewat pementasan bertajuk Aku, Dia, Dia yang digelar di Taman Budaya Surabaya, 2 Mei 2026. Pertunjukan ini menghadirkan humor khas yang diselipi kritik sosial tajam dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Gelak tawa penonton pecah saat pelawak melontarkan parikan yang disambut celetukan spontan di atas panggung sederhana. Namun di balik komedi tersebut, tersimpan pesan sosial yang menggugah.
Ludruk dikenal sebagai seni pertunjukan khas Jawa Timur yang lahir dari masyarakat dan berkembang sebagai medium ekspresi rakyat. Di Surabaya, ludruk bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cermin sosial yang merefleksikan realitas kehidupan.
Pada masa kejayaannya, sekitar dekade 1970 hingga 1990-an, ludruk menjadi primadona hiburan warga kota. Pertunjukan digelar hampir setiap malam di berbagai panggung dan selalu dipadati penonton.
Kini, di tengah perubahan zaman dan gempuran hiburan modern, eksistensi ludruk menghadapi tantangan. Namun, sejumlah kelompok seni mulai melakukan langkah adaptif untuk menjaga keberlanjutan tradisi ini.
Regenerasi menjadi kunci. Anak-anak muda mulai dilibatkan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Upaya ini membuka peluang baru agar ludruk tetap hidup dan relevan di generasi masa kini.
Dukungan pemerintah juga turut memperkuat eksistensi ludruk. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur aktif menggelar program pementasan, termasuk pertunjukan keliling kampung dan pelibatan dalam kegiatan publik.
Tak hanya sebagai hiburan, ludruk kini mulai dimanfaatkan sebagai media komunikasi kebijakan dan edukasi masyarakat. Melalui pendekatan budaya, pesan pembangunan dapat disampaikan secara lebih mudah diterima publik.
Transformasi ini menegaskan bahwa ludruk tidak sekadar bertahan, tetapi juga beradaptasi. Dari panggung tawa, ludruk terus menemukan peran baru sebagai sarana kritik sosial sekaligus media komunikasi yang hidup di tengah masyarakat.***












