Rakyat45.com, Ponorogo – Kelompok kesenian Kyai Lodra berhasil meraih Piala Bergilir Presiden pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXX tahun 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti keberhasilan regenerasi seniman muda sekaligus pengembangan seni pertunjukan Reog yang tetap berpegang pada nilai dan tradisi budaya asli.
Keberhasilan itu diraih di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap kesenian Reog Ponorogo setelah resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) pada Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-19 yang digelar pada Desember 2024.
Festival Nasional Reog Ponorogo sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu dari Top 10 Kharisma Event Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan menjadi ajang bergengsi bagi para pelaku seni budaya dari berbagai daerah.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur memfasilitasi kelompok kesenian Kyai Lodra untuk mengikuti festival tersebut. Kelompok ini dipilih karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam menjaga pakem kesenian tradisional sekaligus mendorong regenerasi pelaku budaya.
Kyai Lodra terdiri dari sejumlah akademisi, tenaga pendidik, serta pelajar dari berbagai lembaga pendidikan tinggi dan menengah. Kehadiran mereka dinilai mampu menjamin kesesuaian pengembangan pertunjukan dengan nilai, aturan, dan hukum adat yang menjadi dasar kesenian Reog Ponorogo.
Dalam proses persiapan menuju festival, Disbudpar Jawa Timur memberikan perhatian khusus kepada peserta yang belum pernah tampil di panggung besar Festival Nasional Reog Ponorogo. Selama kurang lebih tiga bulan, para anggota kelompok menjalani proses riset, pendalaman materi, hingga pengembangan konsep pertunjukan bersama para seniman dan calon seniman yang masih menempuh pendidikan formal seni.
Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan standar kualitas pertunjukan sehingga mampu dipertanggungjawabkan secara akademis sekaligus relevan dengan perkembangan selera penonton saat ini.
Disbudpar Jawa Timur menilai peningkatan kualitas seni pertunjukan dan regenerasi seniman menjadi bagian penting dalam program pelestarian kebudayaan daerah. Pendekatan serupa juga diterapkan pada berbagai kelompok kesenian lain seperti ludruk, jaranan, campursari, budaya Tengger, hingga seni tradisi Banyuwangi.
Melalui proses pembinaan tersebut, semakin banyak pelaku seni mendapatkan akses terhadap program pelestarian budaya dengan standar yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Komitmen itu berhasil dibuktikan Kyai Lodra dalam Festival Nasional Reog Ponorogo XXX. Kelompok tersebut tampil dengan berbagai inovasi dalam kemasan pertunjukan, namun tetap mempertahankan esensi dan nilai-nilai utama Reog Ponorogo, hingga akhirnya dinobatkan sebagai penampil terbaik dan berhak membawa pulang Piala Bergilir Presiden.***








